{"id":91,"date":"2026-06-30T01:00:00","date_gmt":"2026-06-30T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/?p=91"},"modified":"2026-06-28T06:35:16","modified_gmt":"2026-06-28T06:35:16","slug":"research-gap-pengertian-cara-menemukan-dan-contoh-penulisannya-dalam-penelitian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/research-gap-pengertian-cara-menemukan-dan-contoh-penulisannya-dalam-penelitian\/","title":{"rendered":"Research Gap Pengertian, Cara Menemukan, dan Contoh Penulisannya dalam Penelitian"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Salah satu alasan utama proposal penelitian ditolak adalah karena peneliti tidak mampu menunjukkan research gap secara jelas. Jika Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan proposal, pencarian referensi, proofreading, terjemahan jurnal medis, atau publikasi jurnal ilmiah, kunjungi <\/strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\"><strong>mitrailmiah.com<\/strong><\/a><strong> atau hubungi WhatsApp: <\/strong><a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\"><strong>0<\/strong><\/a><a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\"><strong>858-1118-9910<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak mahasiswa dan peneliti sering mendengar istilah <em>research gap<\/em>, tetapi masih kesulitan menjelaskan apa sebenarnya research gap dan bagaimana menemukannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akibatnya, proposal penelitian sering mendapatkan komentar seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>&#8220;Kebaruan penelitian belum terlihat.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Urgensi penelitian kurang kuat.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Belum ada alasan yang jelas mengapa penelitian ini perlu dilakukan.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, research gap merupakan salah satu komponen terpenting dalam penelitian ilmiah. Research gap membantu menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki kontribusi dan tidak sekadar mengulang penelitian sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini akan membahas pengertian research gap, jenis-jenisnya, cara menemukannya, serta contoh penulisan research gap yang dapat diterapkan pada skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel jurnal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">Daftar Isi<\/h1>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"#apa\">Apa Itu Research Gap?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#mengapa\">Mengapa Research Gap Penting?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#jenis\">Jenis-Jenis Research Gap<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#cara\">Cara Menemukan Research Gap<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#contoh\">Contoh Penulisan Research Gap<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesalahan\">Kesalahan yang Sering Terjadi<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#tips\">Tips Menyusun Research Gap yang Kuat<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesimpulan\">Kesimpulan<\/a><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"apa\" class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Research Gap?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap adalah kesenjangan pengetahuan, keterbatasan penelitian sebelumnya, atau pertanyaan ilmiah yang belum terjawab secara memadai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sederhananya, research gap menjawab pertanyaan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Apa yang belum diketahui dari penelitian sebelumnya sehingga penelitian ini perlu dilakukan?&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap menjadi dasar utama untuk menjelaskan urgensi penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum mencari research gap, pastikan Anda telah memiliki topik penelitian yang jelas. Jika masih berada pada tahap awal, baca artikel <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-menentukan-judul-penelitian-yang-menarik-relevan-dan-mudah-disetujui\/\" data-type=\"post\" data-id=\"59\">Cara Menentukan Judul Penelitian yang Menarik, Relevan, dan Mudah Disetujui<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"mengapa\" class=\"wp-block-heading\">Mengapa Research Gap Penting?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap memiliki beberapa fungsi penting:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menunjukkan kebaruan penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Menjelaskan alasan penelitian perlu dilakukan.<\/li>\n\n\n\n<li>Membantu membangun argumentasi ilmiah.<\/li>\n\n\n\n<li>Meningkatkan peluang proposal disetujui.<\/li>\n\n\n\n<li>Memperkuat peluang artikel diterima jurnal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa research gap yang jelas, penelitian sering dianggap tidak memiliki kontribusi yang signifikan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"jenis\" class=\"wp-block-heading\">Jenis-Jenis Research Gap<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak semua research gap berbentuk kekosongan penelitian. Berikut beberapa jenis yang paling sering ditemukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Evidence Gap<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadi ketika bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih sedikit penelitian mengenai pengaruh penggunaan Artificial Intelligence terhadap kualitas penulisan artikel ilmiah di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Population Gap<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadi ketika penelitian sebelumnya dilakukan pada populasi tertentu tetapi belum diterapkan pada populasi lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan kualitas pelayanan dan loyalitas pasien telah banyak diteliti di rumah sakit swasta, tetapi masih jarang diteliti pada laboratorium kesehatan daerah.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Methodological Gap<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadi ketika penelitian sebelumnya menggunakan metode tertentu dan belum menggunakan pendekatan lain yang mungkin lebih sesuai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan eksplorasi kualitatif terhadap pengalaman pasien masih terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Anda masih bingung memilih metode penelitian yang sesuai, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/metode-penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif-mana-yang-tepat-untuk-penelitian-anda\/\" data-type=\"post\" data-id=\"75\">Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Mana yang Tepat untuk Penelitian Anda?<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Contradictory Gap<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadi ketika hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang saling bertentangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penelitian menemukan bahwa media sosial meningkatkan motivasi belajar, sedangkan penelitian lain menunjukkan efek sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Theoretical Gap<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadi ketika teori yang digunakan belum mampu menjelaskan fenomena secara komprehensif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model yang ada belum sepenuhnya menjelaskan hubungan antara kualitas pelayanan digital dan loyalitas pasien.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"cara\" class=\"wp-block-heading\">Cara Menemukan Research Gap<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Membaca Artikel Jurnal Terbaru<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah pertama adalah mengumpulkan artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gunakan sumber yang kredibel seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Scopus<\/li>\n\n\n\n<li>PubMed<\/li>\n\n\n\n<li>Web of Science<\/li>\n\n\n\n<li>ScienceDirect<\/li>\n\n\n\n<li>Google Scholar<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk mempelajari strategi pencarian referensi yang efektif, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/panduan-lengkap-mencari-referensi-jurnal-internasional-bereputasi\/\" data-type=\"post\" data-id=\"69\">Panduan Lengkap Mencari Referensi Jurnal Internasional Bereputasi<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Fokus pada Bagian Discussion dan Limitation<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak peneliti secara langsung menyebutkan keterbatasan penelitian mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan bagian:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Limitation<\/li>\n\n\n\n<li>Future Research<\/li>\n\n\n\n<li>Discussion<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagian ini sering menjadi sumber ide research gap yang sangat berharga.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Bandingkan Hasil Antar Penelitian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika hasil beberapa penelitian berbeda atau bertentangan, hal tersebut dapat menjadi research gap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian A menunjukkan hubungan signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian B menunjukkan hubungan tidak signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar penelitian baru.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Gunakan Bantuan AI Secara Bijak<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini banyak peneliti memanfaatkan AI untuk mempercepat proses pencarian dan pemetaan literatur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajari caranya melalui artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-menggunakan-chatgpt-untuk-mencari-dan-merangkum-jurnal-medis-secara-efektif-tahun-2026\/\" data-type=\"post\" data-id=\"12\">Cara Menggunakan ChatGPT untuk Mencari dan Merangkum Jurnal Medis Secara Efektif Tahun 2026<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"contoh\" class=\"wp-block-heading\">Contoh Penulisan Research Gap<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Contoh 1<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Namun, sebagian besar penelitian dilakukan pada rumah sakit swasta. Penelitian mengenai hubungan tersebut pada laboratorium kesehatan daerah masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Contoh 2<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun penggunaan Artificial Intelligence dalam dunia pendidikan semakin meningkat, penelitian mengenai pengaruhnya terhadap kualitas penulisan karya ilmiah mahasiswa di Indonesia masih relatif sedikit. Kondisi ini menunjukkan adanya research gap yang perlu diteliti lebih lanjut.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesalahan\" class=\"wp-block-heading\">Kesalahan yang Sering Terjadi<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Menganggap Research Gap Sebagai Topik Baru<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap tidak selalu berarti menemukan topik yang belum pernah diteliti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sering kali research gap berasal dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Populasi berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li>Metode berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li>Variabel tambahan.<\/li>\n\n\n\n<li>Hasil penelitian yang kontradiktif.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tidak Didukung Referensi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap harus dibangun berdasarkan literatur, bukan opini pribadi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Terlalu Umum<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap yang terlalu luas akan sulit dikembangkan menjadi penelitian yang fokus.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tidak Relevan dengan Tujuan Penelitian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap harus memiliki hubungan langsung dengan pertanyaan penelitian yang akan dijawab.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"tips\" class=\"wp-block-heading\">Tips Menyusun Research Gap yang Kuat<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Gunakan Referensi Mutakhir<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin baru referensi yang digunakan, semakin kuat argumentasi penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tunjukkan Bukti<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jangan hanya menyatakan bahwa penelitian masih terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tunjukkan artikel atau data yang mendukung pernyataan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hubungkan dengan Tujuan Penelitian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap harus mengarah secara logis pada tujuan penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hindari Plagiarisme<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat menjelaskan penelitian sebelumnya, gunakan parafrase yang baik dan sitasi yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memahami cara menjaga orisinalitas karya ilmiah, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/apa-itu-turnitin-cara-mengurangi-similarity-secara-etis-dan-aman\/\" data-type=\"post\" data-id=\"72\">Apa Itu Turnitin? Cara Mengurangi Similarity Secara Etis dan Aman<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesimpulan\" class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap merupakan fondasi penting dalam penelitian ilmiah. Dengan menunjukkan apa yang belum diketahui, belum diteliti, atau masih diperdebatkan dalam literatur, peneliti dapat menjelaskan urgensi dan kontribusi penelitiannya secara lebih kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui pencarian literatur yang sistematis, analisis penelitian sebelumnya, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, research gap dapat ditemukan dan disusun secara meyakinkan sehingga meningkatkan peluang proposal maupun artikel ilmiah untuk diterima.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila Anda membutuhkan bantuan dalam pencarian referensi, penyusunan proposal, proofreading, terjemahan jurnal medis, atau publikasi jurnal ilmiah, kunjungi <a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\">mitrailmiah.com<\/a> atau hubungi WhatsApp <a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\">0858-1118-9910<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu alasan utama proposal penelitian ditolak adalah karena peneliti tidak mampu menunjukkan research gap secara jelas. Jika Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan proposal, pencarian referensi, proofreading, terjemahan\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":92,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-91","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91\/revisions\/93"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}