{"id":54,"date":"2026-06-22T01:00:00","date_gmt":"2026-06-22T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/?p=54"},"modified":"2026-06-21T12:40:15","modified_gmt":"2026-06-21T12:40:15","slug":"mengapa-artikel-ilmiah-ditolak-jurnal-10-kesalahan-yang-paling-sering-terjadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/mengapa-artikel-ilmiah-ditolak-jurnal-10-kesalahan-yang-paling-sering-terjadi\/","title":{"rendered":"Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak Jurnal? 10 Kesalahan yang Paling Sering Terjadi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apakah artikel ilmiah Anda ditolak jurnal? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian.<\/strong> Banyak mahasiswa, dosen, peneliti, maupun praktisi akademik mengalami penolakan saat mengirimkan manuskrip ke jurnal ilmiah. Bahkan penulis berpengalaman sekalipun pernah menghadapi proses penolakan sebelum akhirnya berhasil menerbitkan artikel mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penolakan artikel tidak selalu berarti penelitian Anda buruk. Dalam banyak kasus, artikel ditolak karena masalah teknis, metodologis, atau ketidaksesuaian dengan fokus jurnal yang dituju. Dengan memahami penyebab umum penolakan, Anda dapat meningkatkan kualitas manuskrip dan memperbesar peluang diterima pada proses submit berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Isi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"#mengapa\">Mengapa Jurnal Menolak Artikel Ilmiah?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#satu\">1. Topik Tidak Sesuai dengan Scope Jurnal<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#dua\">2. Kebaruan Penelitian Kurang Jelas<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#tiga\">3. Rumusan Masalah Tidak Kuat<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#empat\">4. Metodologi Penelitian Kurang Tepat<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#lima\">5. Analisis Data Tidak Mendalam<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#enam\">6. Referensi Kurang Mutakhir<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#tujuh\">7. Struktur Artikel Tidak Sesuai Template<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#delapan\">8. Kualitas Bahasa Akademik Kurang Baik<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#sembilan\">9. Similarity atau Indikasi Plagiarisme Tinggi<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#sepuluh\">10. Tidak Mengikuti Petunjuk Penulis<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#cara\">Cara Meningkatkan Peluang Artikel Diterima Jurnal<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesimpulan\">Kesimpulan<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"mengapa\" class=\"wp-block-heading\">Mengapa Jurnal Menolak Artikel Ilmiah?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap jurnal memiliki standar kualitas yang harus dipenuhi sebelum sebuah artikel dapat diterbitkan. Setelah proses submit, editor akan melakukan evaluasi awal (<em>desk review<\/em>). Jika artikel dianggap tidak memenuhi syarat dasar, manuskrip dapat langsung ditolak tanpa masuk ke tahap <em>peer review<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang menyebabkan artikel ilmiah ditolak jurnal merupakan langkah penting bagi setiap penulis yang ingin sukses dalam publikasi akademik.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"satu\" class=\"wp-block-heading\">1. Topik Tidak Sesuai dengan Scope Jurnal<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu alasan paling umum artikel ditolak adalah ketidaksesuaian dengan fokus atau scope jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya, penelitian tentang kesehatan masyarakat dikirim ke jurnal yang berfokus pada teknik industri. Meskipun kualitas penelitian baik, editor kemungkinan besar akan menolak artikel tersebut karena tidak relevan dengan pembaca jurnal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pelajari <em>aims<\/em> and <em>scope <\/em>jurnal sebelum submit.<\/li>\n\n\n\n<li>Baca beberapa artikel terbaru yang diterbitkan jurnal tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Pastikan topik penelitian Anda sesuai dengan bidang yang dibahas jurnal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"dua\" class=\"wp-block-heading\">2. Kebaruan Penelitian Kurang Jelas<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jurnal ilmiah mencari penelitian yang memberikan kontribusi baru terhadap ilmu pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika penelitian hanya mengulang studi sebelumnya tanpa memberikan perspektif baru, reviewer dapat menilai bahwa penelitian tidak memiliki novelty yang cukup.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jelaskan <em>research gap<\/em> secara eksplisit.<\/li>\n\n\n\n<li>Tunjukkan perbedaan penelitian Anda dengan penelitian sebelumnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tekankan kontribusi teoritis maupun praktis dari hasil penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"tiga\" class=\"wp-block-heading\">3. Rumusan Masalah Tidak Kuat<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumusan masalah menjadi fondasi utama penelitian. Jika rumusan masalah tidak jelas atau tidak didukung oleh kajian literatur yang memadai, reviewer akan mempertanyakan urgensi penelitian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tanda-Tanda Rumusan Masalah Lemah<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tidak menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak didukung data atau fenomena aktual.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak memiliki hubungan yang kuat dengan tujuan penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bangun argumentasi secara logis mulai dari fenomena, kesenjangan penelitian, hingga tujuan penelitian yang ingin dicapai.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"empat\" class=\"wp-block-heading\">4. Metodologi Penelitian Kurang Tepat<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode penelitian yang tidak sesuai dapat membuat hasil penelitian menjadi kurang valid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jumlah sampel terlalu kecil.<\/li>\n\n\n\n<li>Teknik pengambilan sampel tidak dijelaskan.<\/li>\n\n\n\n<li>Instrumen penelitian tidak diuji validitas dan reliabilitasnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Metode analisis tidak sesuai dengan tujuan penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunakan metode yang relevan dengan pertanyaan penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Jelaskan prosedur penelitian secara rinci.<\/li>\n\n\n\n<li>Cantumkan dasar teori yang mendukung pemilihan metode.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"lima\" class=\"wp-block-heading\">5. Analisis Data Tidak Mendalam<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak artikel hanya menyajikan hasil penelitian tanpa pembahasan yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Reviewer umumnya mengharapkan penulis mampu menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengapa hasil tersebut muncul.<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana hasil penelitian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Implikasi hasil penelitian terhadap teori maupun praktik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jangan hanya mendeskripsikan data. Berikan interpretasi, analisis kritis, dan diskusi yang mendalam.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"enam\" class=\"wp-block-heading\">6. Referensi Kurang Mutakhir<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Referensi yang terlalu lama dapat membuat artikel terlihat kurang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian besar jurnal bereputasi menyarankan penggunaan referensi primer yang diterbitkan dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunakan jurnal internasional terbaru.<\/li>\n\n\n\n<li>Perbanyak referensi dari artikel ilmiah dibandingkan sumber sekunder.<\/li>\n\n\n\n<li>Pastikan literatur yang digunakan relevan dengan topik penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"tujuh\" class=\"wp-block-heading\">7. Struktur Artikel Tidak Sesuai Template<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap jurnal memiliki format penulisan yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesalahan yang sering terjadi meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Format sitasi tidak sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li>Ukuran font berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li>Susunan bagian artikel tidak mengikuti template.<\/li>\n\n\n\n<li>Tabel dan gambar tidak mengikuti ketentuan jurnal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Unduh template resmi jurnal dan ikuti seluruh panduan penulisan secara konsisten sebelum melakukan submit.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"delapan\" class=\"wp-block-heading\">8. Kualitas Bahasa Akademik Kurang Baik<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahasa yang tidak jelas dapat menyulitkan reviewer memahami penelitian yang dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah yang sering ditemukan antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kalimat terlalu panjang.<\/li>\n\n\n\n<li>Tata bahasa tidak konsisten.<\/li>\n\n\n\n<li>Kesalahan ejaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Terjemahan bahasa Inggris kurang baik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Lakukan proofreading sebelum submit.<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan bahasa akademik yang formal dan jelas.<\/li>\n\n\n\n<li>Mintalah rekan atau editor profesional untuk melakukan pemeriksaan naskah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"sembilan\" class=\"wp-block-heading\">9. Similarity atau Indikasi Plagiarisme Tinggi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jurnal sangat memperhatikan integritas akademik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingkat <em>similarity <\/em>yang tinggi dapat menyebabkan artikel langsung ditolak bahkan sebelum masuk tahap review.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun perlu dipahami bahwa similarity tinggi tidak selalu berarti plagiarisme. Meski demikian, kemiripan yang berlebihan tetap menjadi perhatian editor.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Lakukan parafrase secara benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Cantumkan sitasi pada setiap sumber yang digunakan.<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan perangkat pemeriksa <em>similarity <\/em>sebelum submit.<\/li>\n\n\n\n<li>Hindari menyalin teks secara langsung dari sumber lain.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"sepuluh\" class=\"wp-block-heading\">10. Tidak Mengikuti Petunjuk Penulis<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak penulis mengabaikan author guidelines yang disediakan jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal editor sering kali melakukan pemeriksaan administratif sebelum mengevaluasi substansi artikel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesalahan sederhana seperti tidak melengkapi metadata, tidak mengunggah dokumen pendukung, atau salah format referensi dapat menyebabkan penolakan awal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindarinya<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca petunjuk penulis secara menyeluruh dan buat checklist sebelum melakukan submit.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"cara\" class=\"wp-block-heading\">Cara Meningkatkan Peluang Artikel Diterima Jurnal<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut beberapa strategi yang dapat membantu meningkatkan peluang publikasi:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pilih Jurnal yang Tepat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pastikan bidang penelitian sesuai dengan fokus jurnal yang dituju.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Perkuat Kajian Literatur<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gunakan referensi terbaru dan berkualitas untuk menunjukkan penguasaan terhadap topik penelitian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tunjukkan Kebaruan Penelitian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jelaskan kontribusi penelitian secara jelas pada bagian pendahuluan maupun pembahasan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Lakukan <em>Proofreading<\/em><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Periksa kembali tata bahasa, format penulisan, sitasi, dan kelengkapan dokumen sebelum submit.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Minta Masukan dari Rekan Sejawat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Review internal sebelum submit dapat membantu menemukan kelemahan yang mungkin terlewat.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesimpulan\" class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penolakan artikel ilmiah merupakan bagian yang umum dalam proses publikasi akademik. Sebagian besar penolakan terjadi bukan karena penelitian tidak berkualitas, melainkan karena adanya masalah pada kesesuaian jurnal, kebaruan penelitian, metodologi, kualitas penulisan, atau ketidakpatuhan terhadap pedoman jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan memahami <strong>10 kesalahan yang paling sering menyebabkan artikel ilmiah ditolak jurnal<\/strong>, penulis dapat melakukan perbaikan yang diperlukan sebelum submit. Persiapan yang matang akan meningkatkan peluang artikel untuk lolos proses review dan diterbitkan pada jurnal yang dituju.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda membutuhkan jasa terjemah atau pembuatan PPT ilmiah, segera hubungi kami <a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\">Mitra Ilmiah<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah artikel ilmiah Anda ditolak jurnal? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Banyak mahasiswa, dosen, peneliti, maupun praktisi akademik mengalami penolakan saat mengirimkan manuskrip ke jurnal ilmiah. Bahkan penulis\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":55,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-54","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54\/revisions\/56"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}