{"id":115,"date":"2026-07-07T01:00:00","date_gmt":"2026-07-07T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/?p=115"},"modified":"2026-07-05T06:05:27","modified_gmt":"2026-07-05T06:05:27","slug":"kapan-perlu-dilakukan-uji-normalitas-dalam-penelitian-dan-bagaimana-cara-interpretasinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/kapan-perlu-dilakukan-uji-normalitas-dalam-penelitian-dan-bagaimana-cara-interpretasinya\/","title":{"rendered":"Kapan Perlu Dilakukan Uji Normalitas dalam Penelitian dan Bagaimana Cara Interpretasinya"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jawaban Singkat<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menilai apakah data penelitian mengikuti distribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas membantu peneliti menentukan apakah dapat menggunakan analisis parametrik seperti t-test, ANOVA, dan Pearson Correlation atau perlu menggunakan metode nonparametrik seperti Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, dan Spearman Correlation. Pemahaman yang tepat mengenai uji normalitas sangat penting untuk menghasilkan analisis data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Isi<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"#apa\">Apa Itu Uji Normalitas?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#mengapa\">Mengapa Uji Normalitas Penting dalam Penelitian?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kapan\">Kapan Uji Normalitas Perlu Dilakukan?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#metode\">Metode Uji Normalitas yang Paling Sering Digunakan<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#cara\">Cara Interpretasi Hasil Uji Normalitas<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#apa2\">Apa yang Harus Dilakukan Jika Data Tidak Normal?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesalahan\">Kesalahan yang Sering Terjadi<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#tabel\">Tabel Ringkasan Uji Normalitas<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#poin\">Poin Penting<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#faq\">FAQ<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesimpulan\">Kesimpulan<\/a><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"apa\" class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Uji Normalitas?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji normalitas merupakan prosedur statistik yang digunakan untuk menentukan apakah suatu variabel memiliki distribusi data yang mendekati distribusi normal (Gaussian distribution).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Distribusi normal ditandai dengan kurva berbentuk lonceng (bell-shaped curve), di mana sebagian besar data berkumpul di sekitar nilai rata-rata dan semakin sedikit data yang berada pada nilai ekstrem.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam penelitian ilmiah, terutama penelitian kuantitatif, distribusi data menjadi salah satu dasar dalam menentukan metode analisis yang akan digunakan. Oleh karena itu, sebelum melakukan analisis lebih lanjut, peneliti perlu memahami karakteristik data yang dimiliki.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Anda masih bingung menentukan analisis yang sesuai dengan tujuan penelitian, baca juga artikel <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-memilih-metode-analisis-statistik-yang-tepat-untuk-penelitian\/\" data-type=\"post\" data-id=\"75\">Cara Memilih Metode Analisis Statistik yang Tepat untuk Penelitian<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"mengapa\" class=\"wp-block-heading\">Mengapa Uji Normalitas Penting dalam Penelitian?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak metode statistik yang sering digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel ilmiah mensyaratkan data berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa contoh analisis parametrik yang memerlukan asumsi normalitas antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Independent t-test<\/li>\n\n\n\n<li>Paired t-test<\/li>\n\n\n\n<li>One-Way ANOVA<\/li>\n\n\n\n<li>Pearson Correlation<\/li>\n\n\n\n<li>Regresi Linear<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila asumsi normalitas tidak terpenuhi tetapi peneliti tetap menggunakan analisis parametrik, hasil penelitian dapat menjadi kurang akurat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini menjadi sangat penting terutama pada penelitian kuantitatif. Jika Anda masih mempelajari dasar-dasar pendekatan penelitian, artikel <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/metode-penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif-mana-yang-tepat-untuk-penelitian-anda\/\" data-type=\"post\" data-id=\"75\">Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Mana yang Tepat untuk Penelitian Anda?<\/a><\/strong> dapat membantu memahami perbedaan kedua pendekatan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kapan\" class=\"wp-block-heading\">Kapan Uji Normalitas Perlu Dilakukan?<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Saat Menggunakan Analisis Parametrik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji normalitas umumnya dilakukan ketika peneliti berencana menggunakan metode statistik parametrik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Uji t<\/li>\n\n\n\n<li>ANOVA<\/li>\n\n\n\n<li>Pearson Correlation<\/li>\n\n\n\n<li>Regresi Linear<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena seluruh metode tersebut memiliki asumsi distribusi data normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Saat Data Berupa Data Numerik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji normalitas biasanya diterapkan pada data seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Usia<\/li>\n\n\n\n<li>Berat badan<\/li>\n\n\n\n<li>Tinggi badan<\/li>\n\n\n\n<li>Tekanan darah<\/li>\n\n\n\n<li>Kadar kolesterol<\/li>\n\n\n\n<li>Kadar glukosa<\/li>\n\n\n\n<li>Skor penelitian<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, data kategorik seperti jenis kelamin, pekerjaan, atau status pernikahan tidak memerlukan uji normalitas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Saat Sampel Relatif Kecil<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada penelitian dengan jumlah sampel kecil, distribusi data menjadi lebih penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi hasil analisis secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"metode\" class=\"wp-block-heading\">Metode Uji Normalitas yang Paling Sering Digunakan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Shapiro-Wilk Test<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shapiro-Wilk merupakan metode yang paling banyak direkomendasikan untuk penelitian dengan jumlah sampel kecil hingga menengah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keunggulan metode ini antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sensitif mendeteksi penyimpangan distribusi normal.<\/li>\n\n\n\n<li>Banyak direkomendasikan dalam literatur statistik.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersedia pada hampir semua software statistik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kolmogorov-Smirnov Test<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kolmogorov-Smirnov juga sering digunakan dalam penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode ini cukup populer karena mudah ditemukan pada berbagai software statistik, meskipun dalam banyak kasus Shapiro-Wilk dianggap lebih sensitif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Histogram<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Histogram memberikan gambaran visual mengenai bentuk distribusi data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan, histogram sangat membantu dalam memahami pola distribusi data.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Q-Q Plot<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Q-Q Plot membandingkan distribusi data aktual dengan distribusi normal teoritis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin dekat titik-titik data terhadap garis diagonal, semakin besar kemungkinan data berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"cara\" class=\"wp-block-heading\">Cara Interpretasi Hasil Uji Normalitas<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Interpretasi yang paling umum dilakukan berdasarkan nilai signifikansi (p-value).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jika p &gt; 0,05<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data dianggap berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Variabel<\/th><th>p-value<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Umur<\/td><td>0,231<\/td><\/tr><tr><td>Berat Badan<\/td><td>0,118<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Interpretasi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data umur dan berat badan berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jika p \u2264 0,05<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data dianggap tidak berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Variabel<\/th><th>p-value<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>CRP<\/td><td>0,003<\/td><\/tr><tr><td>D-Dimer<\/td><td>0,001<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Interpretasi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data CRP dan D-Dimer tidak berdistribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jangan Hanya Mengandalkan p-Value<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peneliti yang berpengalaman biasanya tidak hanya melihat p-value.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Interpretasi yang lebih baik dilakukan dengan mengombinasikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Shapiro-Wilk<\/li>\n\n\n\n<li>Histogram<\/li>\n\n\n\n<li>Q-Q Plot<\/li>\n\n\n\n<li>Nilai skewness<\/li>\n\n\n\n<li>Nilai kurtosis<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan ini menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"apa2\" class=\"wp-block-heading\">Apa yang Harus Dilakukan Jika Data Tidak Normal?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data yang tidak normal bukan berarti penelitian gagal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Menggunakan Uji Nonparametrik<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Parametrik<\/th><th>Nonparametrik<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Independent t-test<\/td><td>Mann-Whitney<\/td><\/tr><tr><td>Paired t-test<\/td><td>Wilcoxon<\/td><\/tr><tr><td>ANOVA<\/td><td>Kruskal-Wallis<\/td><\/tr><tr><td>Pearson<\/td><td>Spearman<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Melakukan Transformasi Data<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alternatif lainnya adalah melakukan transformasi data, misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Log transformation<\/li>\n\n\n\n<li>Square root transformation<\/li>\n\n\n\n<li>Reciprocal transformation<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, transformasi harus dijelaskan secara jelas dalam metode penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesalahan\" class=\"wp-block-heading\">Kesalahan yang Sering Terjadi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak mahasiswa dan peneliti pemula melakukan kesalahan dalam penggunaan uji normalitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa kesalahan yang sering ditemukan adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menggunakan uji t meskipun data tidak normal.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak melakukan uji normalitas sebelum analisis parametrik.<\/li>\n\n\n\n<li>Menganggap semua data harus berdistribusi normal.<\/li>\n\n\n\n<li>Hanya melihat histogram tanpa melakukan pengujian statistik.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak melaporkan hasil uji normalitas dalam laporan penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesalahan tersebut dapat mengurangi kualitas penelitian dan menjadi salah satu alasan reviewer memberikan revisi pada manuskrip yang dikirimkan ke jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain metodologi statistik yang baik, kualitas penulisan juga berperan penting dalam proses publikasi. Oleh karena itu, Anda juga dapat mempelajari artikel <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-menulis-pendahuluan-artikel-ilmiah-yang-kuat-dan-meyakinkan-reviewer\/\" data-type=\"post\" data-id=\"88\">Cara Menulis Pendahuluan Artikel Ilmiah yang Kuat dan Meyakinkan Reviewer<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya, hasil analisis statistik yang diperoleh harus dijelaskan secara tepat pada bagian pembahasan. Untuk itu, baca juga artikel <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-menulis-pembahasan-yang-kritis-dan-disukai-reviewer-jurnal\/\" data-type=\"post\" data-id=\"100\">Cara Menulis Pembahasan (Discussion) yang Kritis dan Disukai Reviewer<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agar penelitian memiliki kebaruan ilmiah yang jelas, penting pula memahami konsep <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/research-gap-pengertian-cara-menemukan-dan-contoh-penulisannya-dalam-penelitian\/\" data-type=\"post\" data-id=\"91\">Research Gap: Pengertian, Cara Menemukan, dan Contoh Penulisannya<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"tabel\" class=\"wp-block-heading\">Tabel Ringkasan Uji Normalitas<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Keterangan<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Tujuan<\/td><td>Menilai apakah data berdistribusi normal<\/td><\/tr><tr><td>Uji yang paling sering digunakan<\/td><td>Shapiro-Wilk<\/td><\/tr><tr><td>Alternatif<\/td><td>Kolmogorov-Smirnov<\/td><\/tr><tr><td>p &gt; 0,05<\/td><td>Data normal<\/td><\/tr><tr><td>p \u2264 0,05<\/td><td>Data tidak normal<\/td><\/tr><tr><td>Jika data tidak normal<\/td><td>Gunakan uji nonparametrik atau transformasi data<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"poin\" class=\"wp-block-heading\">Poin Penting<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Uji normalitas membantu menentukan metode analisis statistik yang tepat.<\/li>\n\n\n\n<li>Shapiro-Wilk merupakan metode yang paling sering direkomendasikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Data tidak normal tidak berarti penelitian gagal.<\/li>\n\n\n\n<li>Uji nonparametrik dapat menjadi solusi yang valid.<\/li>\n\n\n\n<li>Interpretasi tidak boleh hanya bergantung pada p-value.<\/li>\n\n\n\n<li>Uji normalitas merupakan salah satu tahapan penting dalam penelitian kuantitatif.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"faq\" class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah semua penelitian harus melakukan uji normalitas?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Uji normalitas umumnya dilakukan pada penelitian yang menggunakan analisis parametrik dan data numerik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mana yang lebih baik, Shapiro-Wilk atau Kolmogorov-Smirnov?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shapiro-Wilk umumnya lebih direkomendasikan karena lebih sensitif dalam mendeteksi penyimpangan distribusi normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jika nilai p adalah 0,049 apakah data pasti tidak normal?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara statistik data dianggap tidak normal, tetapi interpretasi sebaiknya juga mempertimbangkan histogram, Q-Q Plot, dan ukuran sampel.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah data yang tidak normal harus dibuang?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Data dapat dianalisis menggunakan metode nonparametrik atau dilakukan transformasi data yang sesuai.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengapa reviewer jurnal sering memeriksa uji normalitas?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena pemilihan metode statistik yang tepat sangat memengaruhi validitas hasil penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesimpulan\" class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji normalitas merupakan salah satu langkah penting dalam analisis data penelitian. Hasil uji normalitas akan menentukan apakah peneliti dapat menggunakan metode parametrik atau perlu beralih ke metode nonparametrik. Dengan memahami konsep, metode, dan interpretasi uji normalitas secara benar, peneliti dapat menghasilkan penelitian yang lebih valid, kredibel, dan memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh jurnal nasional maupun internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila Anda membutuhkan bantuan proofreading, terjemahan jurnal medis, penyusunan artikel ilmiah, pembuatan PPT ilmiah, atau pendampingan publikasi jurnal nasional maupun internasional, kunjungi <a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\">mitrailmiah.com<\/a> atau hubungi WhatsApp: <a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\">0858-1118-9910<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jawaban Singkat Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menilai apakah data penelitian mengikuti distribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas membantu peneliti menentukan apakah dapat menggunakan\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":116,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":117,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115\/revisions\/117"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}