{"id":106,"date":"2026-07-05T01:00:00","date_gmt":"2026-07-05T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/?p=106"},"modified":"2026-06-28T10:44:59","modified_gmt":"2026-06-28T10:44:59","slug":"desk-rejection-jurnal-penyebab-cara-menghindari-dan-strategi-agar-lolos-review","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/desk-rejection-jurnal-penyebab-cara-menghindari-dan-strategi-agar-lolos-review\/","title":{"rendered":"Desk Rejection Jurnal Penyebab, Cara Menghindari, dan Strategi Agar Lolos Review"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Artikel Anda ditolak hanya beberapa hari setelah submit tanpa masuk proses review? Kemungkinan besar Anda mengalami desk rejection. Pelajari penyebabnya dan cara menghindarinya dalam artikel ini. Jika Anda membutuhkan bantuan proofreading, terjemahan jurnal medis, penyusunan artikel ilmiah, atau pendampingan publikasi jurnal, kunjungi <\/strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\"><strong>https:\/\/mitrailmiah.com<\/strong><\/a><strong> atau hubungi WhatsApp: <\/strong><a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\"><strong>https:\/\/wa.me\/6285811189910<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak penulis mengira bahwa tantangan terbesar dalam publikasi ilmiah adalah menghadapi reviewer. Faktanya, banyak artikel bahkan tidak pernah sampai ke tangan reviewer karena sudah ditolak terlebih dahulu oleh editor pada tahap awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penolakan pada tahap awal ini dikenal sebagai <strong>desk rejection<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi penulis pemula, desk rejection sering terasa mengecewakan karena artikel ditolak dalam waktu singkat tanpa mendapatkan masukan yang mendalam. Namun, memahami penyebab desk rejection justru dapat membantu penulis meningkatkan kualitas manuskrip dan peluang publikasi pada pengiriman berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini membahas penyebab desk rejection, cara menghindarinya, dan strategi meningkatkan peluang lolos ke tahap peer review.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">Daftar Isi<\/h1>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"#apa\">Apa Itu Desk Rejection?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#mengapa\">Mengapa Desk Rejection Terjadi?<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#penyebab\">Penyebab Desk Rejection yang Paling Sering<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#cara\">Cara Menghindari Desk Rejection<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#strategi\">Strategi Agar Artikel Lolos Review<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesalahan\">Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"#kesimpulan\">Kesimpulan<\/a><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"apa\" class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Desk Rejection?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Desk rejection adalah penolakan artikel oleh editor jurnal sebelum artikel dikirim kepada reviewer untuk proses peer review.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahap ini, editor akan mengevaluasi beberapa aspek utama:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kesesuaian topik dengan scope jurnal.<\/li>\n\n\n\n<li>Kualitas penulisan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kebaruan penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Kualitas metodologi.<\/li>\n\n\n\n<li>Kepatuhan terhadap author guidelines.<\/li>\n\n\n\n<li>Tingkat similarity.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika editor menilai bahwa manuskrip belum memenuhi standar dasar jurnal, artikel dapat langsung ditolak tanpa melalui proses review.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"mengapa\" class=\"wp-block-heading\">Mengapa Desk Rejection Terjadi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor jurnal menerima ratusan hingga ribuan manuskrip setiap tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena keterbatasan waktu dan sumber daya reviewer, editor harus melakukan seleksi awal yang ketat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuannya adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menghemat waktu reviewer.<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga kualitas jurnal.<\/li>\n\n\n\n<li>Memastikan hanya artikel yang layak yang masuk tahap review.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, kualitas manuskrip harus sudah baik sejak sebelum proses submit.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"penyebab\" class=\"wp-block-heading\">Penyebab Desk Rejection yang Paling Sering<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Tidak Sesuai Scope Jurnal<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini merupakan penyebab paling umum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Artikel tentang pendidikan dikirim ke jurnal kesehatan.<\/li>\n\n\n\n<li>Artikel laboratorium klinik dikirim ke jurnal teknik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum submit, pastikan Anda memahami ruang lingkup jurnal dan membaca beberapa artikel yang telah diterbitkan sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Anda masih belajar memilih jurnal yang sesuai, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/mengenal-scopus-pengertian-quartile-q1-q4-dan-cara-memilih-jurnal-yang-tepat\/\">Mengenal Scopus: Pengertian, Quartile Q1\u2013Q4, dan Cara Memilih Jurnal yang Tepat<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Research Gap Tidak Jelas<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor ingin mengetahui kontribusi penelitian terhadap ilmu pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika manuskrip tidak mampu menjelaskan kebaruan penelitian, peluang desk rejection akan meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memahami cara menemukan dan menjelaskan research gap, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/research-gap-pengertian-cara-menemukan-dan-contoh-penulisannya-dalam-penelitian\/\">Research Gap: Pengertian, Cara Menemukan, dan Contoh Penulisannya dalam Penelitian<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Research gap yang kuat membantu editor memahami mengapa penelitian Anda layak dipublikasikan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Pendahuluan Kurang Meyakinkan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendahuluan adalah bagian pertama yang biasanya diperiksa editor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendahuluan yang lemah sering ditandai oleh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Referensi yang tidak mutakhir.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada data pendukung.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak menunjukkan urgensi penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tujuan penelitian tidak jelas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Tinjauan Pustaka Lemah<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literature review yang hanya berupa kumpulan ringkasan artikel tanpa sintesis menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap bidang penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Anda masih kesulitan menyusun literature review, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/cara-menulis-tinjauan-pustaka-yang-berkualitas-untuk-skripsi-tesis-dan-artikel-jurnal\/\">Cara Menulis Tinjauan Pustaka (Literature Review) yang Berkualitas<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Metodologi Tidak Memadai<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa contoh masalah metodologi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ukuran sampel terlalu kecil.<\/li>\n\n\n\n<li>Teknik analisis tidak sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li>Prosedur penelitian tidak dijelaskan dengan jelas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilihan metode yang tepat merupakan fondasi penelitian yang baik. Untuk memahami perbedaan pendekatan penelitian, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/metode-penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif-mana-yang-tepat-untuk-penelitian-anda\/\" data-type=\"post\" data-id=\"75\">Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Mana yang Tepat untuk Penelitian Anda?<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Similarity Terlalu Tinggi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingkat similarity yang tinggi sering menjadi alasan desk rejection.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun perlu dipahami bahwa similarity bukan satu-satunya indikator plagiarisme.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Kualitas Bahasa Buruk<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesalahan tata bahasa, struktur kalimat yang tidak jelas, dan penggunaan istilah yang tidak konsisten dapat mengurangi kredibilitas manuskrip.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, proofreading sangat penting sebelum submit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajari lebih lanjut melalui artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/proofreading-artikel-ilmiah-kesalahan-yang-sering-membuat-manuskrip-ditolak-jurnal\/\" data-type=\"post\" data-id=\"37\">Proofreading Artikel Ilmiah: 7 Kesalahan yang Sering Membuat Manuskrip Ditolak Jurnal<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"cara\" class=\"wp-block-heading\">Cara Menghindari Desk Rejection<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pilih Jurnal yang Tepat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jangan hanya melihat quartile jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Scope jurnal.<\/li>\n\n\n\n<li>Jenis artikel yang diterima.<\/li>\n\n\n\n<li>Metodologi yang umum digunakan.<\/li>\n\n\n\n<li>Target pembaca jurnal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Ikuti Author Guidelines<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak artikel ditolak hanya karena tidak mengikuti format yang diminta jurnal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Struktur artikel.<\/li>\n\n\n\n<li>Format referensi.<\/li>\n\n\n\n<li>Jumlah kata.<\/li>\n\n\n\n<li>Format tabel dan gambar.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Gunakan Referensi Berkualitas<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Referensi yang kuat menunjukkan bahwa penelitian dibangun di atas landasan ilmiah yang kredibel.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Perkuat Bagian Discussion<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Discussion yang lemah dapat membuat editor meragukan kontribusi penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Strategi Agar Artikel Lolos Review<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tunjukkan Kebaruan Penelitian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor harus dapat melihat kontribusi penelitian dalam beberapa menit pertama membaca manuskrip.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Gunakan Data yang Kuat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin baik kualitas data dan analisis, semakin tinggi peluang lolos review.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Perhatikan Abstrak<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abstrak sering menjadi bagian pertama yang dibaca editor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pastikan abstrak mampu menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Masalah penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tujuan penelitian.<\/li>\n\n\n\n<li>Metode.<\/li>\n\n\n\n<li>Hasil utama.<\/li>\n\n\n\n<li>Kesimpulan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memahami cara menulis abstrak yang efektif, baca artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/tips-menulis-abstrak-penelitian-yang-menarik-dan-mudah-dipahami-reviewer\/\" data-type=\"post\" data-id=\"78\">Tips Menulis Abstrak Penelitian yang Menarik dan Mudah Dipahami Reviewer<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kelola Referensi dengan Baik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengelolaan referensi yang rapi membantu meningkatkan profesionalisme manuskrip.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajari lebih lanjut melalui artikel: <strong><a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/mendeley-untuk-pemula-cara-mengelola-referensi-dan-sitasi-secara-otomatis\/\">Mendeley untuk Pemula: Cara Mengelola Referensi dan Sitasi Secara Otomatis<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesalahan\" class=\"wp-block-heading\">Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Submit tanpa proofreading.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengirim artikel ke jurnal yang tidak sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengabaikan author guidelines.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak menjelaskan research gap.<\/li>\n\n\n\n<li>Menggunakan referensi yang sudah terlalu lama.<\/li>\n\n\n\n<li>Menulis discussion yang dangkal.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengabaikan komentar editor pada pengiriman sebelumnya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 id=\"kesimpulan\" class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Desk rejection merupakan bagian yang umum dalam dunia publikasi ilmiah. Namun, sebagian besar penyebab desk rejection sebenarnya dapat dihindari melalui persiapan manuskrip yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan memilih jurnal yang tepat, menunjukkan research gap yang jelas, menggunakan metodologi yang kuat, memperhatikan kualitas bahasa, serta mengikuti pedoman jurnal secara konsisten, peluang artikel untuk lolos ke tahap peer review akan meningkat secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila Anda membutuhkan bantuan proofreading, terjemahan jurnal medis, penyusunan artikel ilmiah, atau pendampingan publikasi jurnal nasional maupun internasional, kunjungi <a href=\"https:\/\/mitrailmiah.com\">mitrailmiah.com<\/a> atau hubungi WhatsApp <a href=\"https:\/\/wa.me\/6285811189910\">0858-1118-9910<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel Anda ditolak hanya beberapa hari setelah submit tanpa masuk proses review? Kemungkinan besar Anda mengalami desk rejection. Pelajari penyebabnya dan cara menghindarinya dalam artikel ini. Jika Anda\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":107,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-106","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":108,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions\/108"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrailmiah.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}